Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Terinfeksi dan Diisolasi Bersama Pasien Covid19 (Part 3 )

Kita lanjutkan dari part 2 ya, buat yang belum baca part 2 nya kalian bisa klik di sini.

gambar hanyalah ilustrasi

Akhirnya sampai juga di part 3, in adalah part yang terakhir dan lumayan panjang, jadi seperti biasa, kopi + cemilannya jangan lupa, Ok ;)

Tanggal 24 Januari 2021, tepatnya hari ke-2 kami di RS A, Ibu ku sudah ditetapkan sebagai pasien positif covid19, langsung dipindah ke ruang khusus untuk pasien positif covid19. Ruangannya bersebelahan dengan ruang suspect covid19. Dan kamar mandi nya di sana hanya ada 1 kamar mandi. Kamar mandi tersebut digunakan oleh semua pasien suspect, dan positif secara bergantian. Gila memang, ini rumah sakit macam apa, buat kamar mandi aja ga bisa. Secara tidak langsung kamar mandi tersebut justru malah menjadi sarana bertukar virus dan penyakit pada tiap pasien. Tapi, ya mau bagaimana lagi. 

Ruang isolasi positif Covid-19

Pagi itu Aku dan Ibu ku masuk keruang isolasi pasien positif covid-19, dan beginilah ilustrasi posisi pasien di dalam ruangan tersebut.



Itu adalah posisi pada lantai 1, karena ruang suspect dan ruang positif itu ada 2 ruang, di lantai 1, dan di lantai 2. Kebetulan Ibu ku dapat ruang di lantai 1. garis hitam pada gambar adalah tembok, dan garis hijau adalah tirai. Ibu ku sangat beruntung mendapat posisi pasien di nomor 5, yang mana itu adalah posisi paling aman, karena tempat nomor 5 lebih tertutup dari pasien lain, serta itu adalah posisi paling timur dari ruangan tersebut, sehingga saat pagi hari datang, sinar matahari akan langsung menembus jendela dan itu tidak didapatkan oleh pasien lainnya. 

Di hari ke-2, sakit dada yang dirasakan ibuku berkurang, bahkan hampir tidak sakit sama sekali. Namun di hari ke-3, entah karena faktor apa, tiba-tiba sakit dada itu datang lagi, nyeri dada itu sekarang berada di dada sebelah kiri. Dan kali ini lebih sakit dari sakit dada sebelumnya yang berada di sebelah kanan. 

Rasa nyeri pada dada Ibu ku berlangsung hingga hari ke-4. Ternyata sakit pada dada timbul akibat penyakit Herpes. Penyakit Herpes adalah penyakit yang menyerang kulit pasien seperti gatal-gatal, berair, dan merah. Dan Herpes bukanlah sakit gatal biasa, namun juga menyerang jaringan syaraf, itu lah mengapa rasa pegal muncul di area dada, pundak, hingga punggung.

Hingga akhirnya pada hari ke-5, rasa nyeri tersebut mulai berkurang, dan Ibu ku mampu duduk, menyisir rambut, bahkan berjalan. Alhamdulillah. Namun, dokter menyarankan untuk tidak banyak bergerak lebih dulu. Dan Tiba saatnya Swab-test untuk ke-2 kalinya. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah skarang virus covid dalam tubuh Ibu ku sudah musnah, atau masih positif.

5 hari kini sudah berlalu, dan Ibu ku bahkan sudah hampir tidak merasakan keluhan penyakit sedikitpun. Begitu pun denganku, aku memang tidak merasakan gejala apapun saat berada di sana. Begitu pun penunggu pasien nomor 4. Ya, pasien nomor 4 bernama Bu Ipah, dan dia adalah wanita berumur 70 tahun lebih, dia dirawat dan ditemani oleh suaminya yang juga sudah tua. Walaupun tua, sang suami juga tetap sehat dan tidak mengalami gejala-gejala covid19. Kini aku dan Ibu ku mulai bosan dengan keadaan isolasi seperti ini, ditambah Ibu ku yang kini sudah tidak merasakan keluhan apapun. Memang ada sih, sedikit nyeri pada pundaknya. Dan sedikit lendir yang kadang keluar, mungkin itu adalah dari infeksi paru-parunya.

Pernah suatu malam saat aku sedang lelap tertidur, Dering telfon Whatsapp membangunkanku di jam 2 tengah malam. Itu adalah telfon dari perawat Rumah sakit. "Halo mas, bisa minta tolong ga mas, maaf ya mengganggu. Tolong gantikan oksigen di ruang suspect milik Bapak yang ada di paling selatan ya, atur tekanan oksigennya di angka 10 ya." kata perawat. Aku yang masih setengah sadar, bingung dengan perintah tersebut, "Maksudnya?". Perawat kemudian menjelaskan lagi, dan aku mencoba mencerna perkataan si perawat. Ya, kini aku mengerti, dengan perasaan kantuk, ku coba masuk kembali ke ruang suspect tempat ku dulu berada. Di sana memang tidak ada pasien yang ditemani seperti Ibu ku, dan mungkin karena si perawat tidak ingin kerepotan memakai kembali pakaian APD lengkap di tengah malam, jadi si perawat menyuruhku saja, hmmm.

Aku dengan sedikit berat hati akhirnya mau melakukan misi mengganti tabung oksigen tersebut. Padahal sebelumnya aku belum pernah melakukannya, hanya pernah melihat saja dari kejauhan bagaimana perawat melakukannya. Pasien yang akan aku datangi di ruang suspect adalah seorang kakek tua yang sudah duduk menunggu ku, dengan kantong oksigen yang menggantung di mulutnya. Aku ga tau itu namanya kantong oksigen atau apa, yang jelas bentuknya seperti kantung plastik yang mengembang dan terhubung ke mulut dan hidung nya.

Aku segera mengganti selang dari tabung oksigen A ke tabung oksigen B, walaupun sedikit bingung pada awalnya, karena belum pernah mencoba mengganti. Namun akhirnya aku bisa yey, kemudian kuatur tekanannya di angka 10. Itu adalah angka yang cukup tinggi, indikator nya adalah 0 - 15. 

Dan setelah aku selesai melakukannya, "Sudah pak, oksigennya sudah diganti" kata ku, tiba-tiba, sssttt. Tangan kakek itu memegangku dan memintaku untuk menemaninya dan menuntunya ke kamar mandi, dia ingin buang air kecil. Ya allah, cobaan apalagi ini, bukannya aku tidak mau membantu, tapi aku hanya takut tertular virus, dan membawa virus baru ke Ibu ku yang mana Ibu ku kini sudah tidak merasakan gejala apapun. akhirnya ya, mau gimana lagi, aku pergi menuntun si kakek ke kamar mandi.

Dan kemudian setelah selesai, aku menuntunnya lagi untuk kembali ke tempat tidurnya. Beliau memang sudah sangat tua, jalannya saja, tangan kanannya menggunakan tongkat, dan tangan kirinya memegang tanganku, sedangkan tangan kiriku memegang infusnya. Dia berkata "maaf ya mas, jadi ngerepotin malam-malam begini", "ya ga papa kok mbah" jawab ku.

Setelah semua selesai, aku segera kembali ke Ibu ku dan segera melepas jaket ku yang tadi tersentuh oleh tangan si kakek. Aku mending tidur tanpa jaket kedinginan dari pada pake jaket itu yang sudah terinveksi, canda terinveksi :v. Tapi kan memang ngeri hmmm.

Hari-hari mulai berlalu, dan kemudian di hari ke 8, Perawat menyuruh kepada semua pasien suspect maupun positif untuk segera mengemasi barangnya, karena akan pindah ke gedung yang baru. Gedungnya berada bersebelahan dengan gedung saat ini. Kami semua pindah ke gedung baru tersebut, dan untuk pasien berlabel covid, ditempatkan di lantai 3. Aku dan Ibuku berada di ruang 3.19 dan dalam tiap 1 ruangan rapat ditempati oleh 2 pasien saja. Ruangan baru ini benar-benar berbeda. Lebih mewah, ada AC, kamar mandi di tiap ruangannya, dan ruangan ditutup rapat dengan baik. Ini lebih baik dari pada saat di tempat sebelumnya yang mana 1 ruangan ditempati 5 pasien, dan hanya dipisahkan oleh tirai saja. 

Teman 1 kamar Ibu ku bernama Bu Asih, Kondisinya saat itu masih mengkhawatirkan. Namun, dia juga ditemani oleh anak nya, sama seperti ibu ku yang ditemani oleh ku. Bu Asih merupakan pasien dengan gejala magh, infeksi paru-paru, batuk, dan demam. Malam pertama bersama Bu Asih benar-benar sangat mengganggu ku dan Ibu ku. Batuknya yang parah, dan ahhh sudah lah. aku tidak mau membahasnya. 

Bu asih yang lemas, sering sekali mondar-mandir keluar masuk kamar mandi untuk buang air kecil, karena efek samping dari obat levofloxacin memang akan berdampak pada volume urine yang meningkat. Levofloxacin merupakan obat untuk penyakit pneumonia atau penyakit paru-paru. Ibu ku juga sama, namun Kami membawa pempers, jadi tidak perlu sering bangun untuk pergi ke kamar mandi.

Melihat kondisi Bu Asih yang tak kunjung membaik, Ibu ku yang merasa iba, memberikan sedikit pempersnya agar dipakai Bu Asih supaya tidak sering bangun di tengah malam untuk ke kamar kecil. Dan ya, 1 hari saja, demam Bu Asih mulai turun, kemudian bisa mengobrol dan bercanda dengan Ibu ku.

Di hari ke-12 tepatnya tanggal 3 Februari, Ibu ku yang sudah sehat kini menjalani rongsen ke-2, biasanya rongsen ke-2 ini merupakan tanda jika sebentar lagi akan diizinkan pulang. Ini adalah kabar baik untuk keluarga ku. Ibu ku menjalani rongsen bersama pasien lain yang jug sudah sehat, Kami bertemu lagi dengan Bu Harti. Jika kalian lupa, Bu Harti adalah pasien yang pernah bersebelahan dengan Ibu ku saat kami berada di ruang suspect di malam pertama. Kondisinya saat ini sudah sangat baik, dia bahkan sudah bisa mencium bau lagi dan merasakan rasa makanan. Alhamdulillah.

Dan di hari itu juga, Bu Asih, teman sekamar ku kini menjalani swab-test yang ke-2, walaupun sebenarnya batuk yang dideritanya belum begitu sembuh. Bu Asih dan anaknya adalah orang yang baik, mereka juga orang kampung sama seperti ku, Intinya kami seperti punya keluarga baru di sana.

Tanggal 4 Januari 2021, tepat hari ke-13, hasil swab-test ke-2 Ibu ku sudah keluar, dan hasilnya adalah negatif, dan pagi itu Aku dan Ibu ku sudah diizinkan pulang. Aku menemui perawat untuk mengambil obat, dan hasil rongsen. Kata perawat, hasil rongsen yang ke-2 sudah sangat baik, kondisi ibu ku juga sudah sehat, kemudian perawat menyerahkan sertifikat yagn bertuliskan bahwa ibu ku sudah sembuh, dan diizinkan pulang. 

Kami berpamitan dengan Bu Asih, kami turut mendoakan semoga Bu Asih bisa cepat sembuh dan pulang, dan bisa bertemu lagi dikemudian hari, dan tentunya dalam keadaan tidak seperti ini. Dan untuk Bu Ipah dan Pak Yanto, Aku sudah tidak melihat mereka lagi semenjak berpisah saat pindah gedung waktu itu. Sepertinya mereka sudah pulang lebih awal.

Dan ya, itu dia cerita pengalaman ku berada di rumah sakit menjalani isolasi bersama mereka para pasien covid dengan gejala yang bermacam-macam. Pengalaman ini cukup mengerikan, namun ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.

1. Virus Covid19/Corona ini sebenarnya tidak begitu berbahaya, asal imun kita kuat, kita jaga kesehatan, jaga kebersihan. Aku juga di sana setiap 5 -10 menit sekali selalu menggunkan handsnytizer, bahkan dalam 2 minggu aku menghabiskan 2 botol lebih.

2. Pasien Covid akan lebih mudah sembuh jika pikirannya relax, dan tidak stress. Aku saranin pasien untuk ditemani keluarga, hibur pasien dengan segala cara agar tetap berfikir positif, optimis, dan bahagia.

3. Jika memang sudah terinfeksi virus covid-19 jangan takut untuk dirawat dan diisolasi di RS, presentasi sembuh dari corona, sekarang sudah cukup tinggi kok. Pasien akan dirawat dengan baik oleh perawat-perawat di sini. 

4. Dan jangan lupa untuk terus berdoa agar kita dan sekeluarga selalu diberikan kesehatan.


Ok demikian ya, cerita dari ku, mohon maaf bila ada salah kata, salah ketik, atau tulisan yang kurang berkenan. Patuhi protokol kesehatan, dan jaga kesehatan bersama.